Mas Nadiem Terkejut ketika Komitmen Kebangsaan Kita Dipertanyakan

Penyampaian beliau menyikapi isu yang berkembang di masyarakat terkait penyederhanaan kurikulum

Belum Bisa Menulis? Ini Kiatnya!

Kuliah Umum IV Pembatik Level 4 Tahun 2020

Kompetensi Public Speaking Seorang Pendidik

Kuliah Umum I Pembatik Level 4 bersama Charles Bonar Sirait

Founder "Sokola Rimba"

Kuliah Umum II Pembatik Level 4 bersama Butet Manurung, MAAPD.

Pembukaan Kuliah Umum Pembatik Lev. 4 Tahun 2020

Kuliah Umum Perdana Pembatik Lev. 4 Tahun 2020. Dibuka oleh Mas Nadiem Makarim

Sabtu, 01 Oktober 2011

OBAT PILEK ALAMI 1 ALA HEMBING

Bahan:
1 ibu jari rimpang jahe, kupas, cuci bersih
2 gelas air
Gula batu atau gula aren


Cara membuat:
Rebus jahe dengan 2 gelas air hingga mendidih, kurang lebih selama 15 - 20 menit. Setelah selesai, dinginkan, lalu saring. Tambahkan gula batu (jika anak anda mengalami batuk), atau tambahkan gula aren (jika anak anda mengalami pilek).

Dosis pemakaian:
Usia 2-5 tahun: 2 x sehari 1/2 gelas
Usia 6 - 12 tahun 2 x sehari 1 gelas

Rabu, 07 September 2011

CONTOH PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Untuk para guru-guru yang membutuhkan uraian Penelitian Tindakan Kelas, maka anda dapat mengunduh beberapa contoh proposal dan laporan lengkap PTK, serta petunjuk pembuatan PTK.

Untuk mendowloadnya, anda tinggal mengklik link-link berikut:

 Trimakasih untuk anda yang mendowload, dan meninggalkan komentar.   Tapi anda mesti ingat, tidak boleh meng COPAS, alias Copy and Paste....

Contoh di atas hanya merupakan panduan saja, jangan digunakan untuk PTK anda, kalau anda tidak dicap sebagai guru IDIOT.................... Thanks so much.

Rabu, 24 Agustus 2011

Tata Cara Penetasan Telur Itik




Telur itik membutuhkan waktu sekitar 28 hari sedangkan telur ayam hanya butuh waktu sekitar 21 hari.

  • Memilih atau menyeleksi telur tetas sesuai dengan kriteria telur tetas yang baik
  • Telur yang kulitnya terlalu kotor perlu dibersihkan, akan tetapi perlu ke hati-hatian dalam membersihkan kulit telur jangan sampai lapisan kulit ikut hilang
  • Pisahkan telur retak, kerabang tebal/tipis
Persiapan mesin tetas
  • Fumigasi mesin tetas telah dilakukan satu hari sebelum mesin dipakai meskipun mesin tersebut baru dibeli
  • Hubungkan mesin tetas dengan catu daya listrik dan tunggu sampai suhu mencapai kestabilan pada suhu 37-38°C. Pemanasan mesin tetas dilakukan minimal 3 jam sebelum telur dimasukkan ke dalam mesin tetas
  • Cek dengan seksama cara kerja thermostat, pitingan lampu dan yang lainnya
  • Sediakan cadangan bola lampu (dop) atau lampu templok (minyak tanah)
Setelah segala sesuatunya telah siap maka saatlah kita masuk ke tahap proses penetasan telur yang sebenarnya.  Adapun urutan kerja selama proses penetasan telur itik adalah sebagai berikut :
Hari ke-1
  • Masukkan telur ke dalam mesin tetas dengan posisi miring atau tegak (bagian tumpul di atas). Telur bisa langsung begitu saja dimasukkan ke dalam mesin atau melalui proses prewarming terlebih dahulu yaitu dibilas secra merata dengan air hangat.
  • Ventilasi ditutup rapat
  • Kontrol suhu (38°C)
Hari ke-2
  • Ventilasi dibiarkan tertutup sampai hari ke-3
  • Kontrol suhu (38°C)
Hari ke-3
  • Pembalikan telur harian bisa dimulai pada hari ini atau masuk hari hari ke-4. Disarankan pembalikan telur minimal 3x dalam sehari-semalam (jika memungkinkan dipakai rentang waktu setiap 8 jam. Misalkan pagi pukul 05.00, siang pukul 13.00, dan malam pukul 21.00.
  • Bersamaan dengan itu bisa dilakukan peneropongan telur kalau sudah memungkinkan karena ketelitian seseorang berbeda-beda. Telur yang berembrio ditandakan dengan bintik hitam seperti mata yang ikut bergoyang ketika telur digerakkan dan disekitarnya ada serabut-serabut kecil. Kalau telur tidak menandakan tersebut dikeluarkan saja dam masih layak untuk dikonsumsi. Peneropongan telur dilaukan ditempat yang gelap argar bayangan telur nampak lebih jelas.
  • Kontrol suhu (38°C) dan lakukan penambahan air pada bak jika jumlah air dalam bak tersebut berkurang.
Hari ke-4
  • Pembalikan telur harian sesuai jadwal hari ke-3
  • Lubang ventilasi mulai dibuka ¼ bagian
  • Kontrol suhu (38°C)
Hari ke-5
  • Pembalikan telur harian
  • Ventilasi dibuka ½ bagian
  • Kontrol suhu (38°C)
Hari ke-6
  • Pembalikan telur harian
  • Ventilasi dibuka ¾ bagian
  • Kontrol suhu (38°C) dan lakukan penambahan air pada bak jika jumlah air dalam bak tersebut berkurang.
Hari ke-7
  • Pembalikan telur harian
  • Lakukan peneropongan telur untuk mengetahui perkembangan embrio (hidup atau mati). Embrio mati mati ditandakan dengan bercak darah atau lapisan darah pada salah satu sisi kerabang telur sedang embrio yang berkembang serabut yang menyerupai sarang laba-laba semakin jelas
  • Ventilasi dibuka seluruhnya
Hari ke-8 sampai ke-13
  • Pembalikan telur harian
  • Kontrol suhu (38°C) dan lakukan penambahan air pada bak jika jumlah air dalam bak tersebut berkurang.
Hari ke-14
  • Pembalikan telur harian
  • Lakukan peneropongan telur untuk mengetahui embrio yang tetap hidup atau sudah mati. Telr fertile membentuk gambaran mulai gelap dengan rongga udara yang terlihat jelas
Hari ke 15 sampai ke-20
  • Pembalikan telur harian
  • Kontrol suhu dinaikkan sedikit (38,5-39°C) dan lakukan penambahan air pada bak jika jumlah air dalam bak tersebut berkurang.
Hari ke-21
  • Pembalikan telur harian
  • Lakukan peneropongan telur untuk mengetahui embrio yang tetap hidup dan mati. Embrio mati ditandakan dengan bocornya lapisan rongga udara sehingga telur terlihat hitam semua
  • Kontrol suhu (38,5-39°C) dan tambahkan air ke dalam bak
Hari ke-22 sampai ke-25
  • Pembalikan telur harian
  • Kontrol suhu (38,5-39°C) dan tambahkan air ke dalam bak
Hari ke-26 sampai ke-27
  • Pembalikan telur dihentikan
  • Kontrol kelembaban, lakukan penyemprotan jika diperlukan (dengan semburan yang paling halus)
  • Biasanya ada telur yang sudah mulai menetas di malam hari
Hari ke-28
  • Telur-telur sudah banyak yang menetas
  • Keluarkan cangkang telur dari rak agar space atau ruangan lebih longgar
  • Keluarkan anak itik yang baru menetas setelah bulunya setengah kering atau kering seluruhnya
  • Proses menetas biasanya berlangsung hingga hari ke-29
  • Dan setelah semuanya selesai mesin tetas bisa dibersihkan dan difumigasi kembali untuk persiapan proses penetasan berikutnya.
Catatan tambahan : hendaklah melakukan pendinginan telur minimal 2 kali sehari karena kalau melihat prilaku unggas yang mengerami telurnya maka dia akan meninggalkan telur untuk berenang beberapa saat kemudian masuk ke tempat pengeraman kembali dan begitu seterusnya dan kalau diperhatikan hal tersebut kadang dilakukan setiap hari.

Jumat, 19 Agustus 2011

Vaksinasi dan Penyakit Ayam

VAKSINASI
Program vaksinasi merupakan hal yang sangat penting dan harus diperhatikan di kalangan peternak ayam petelur. Mengapa? Seperti kita ketahui bersama, ayam petelur mempunyai jangka waktu hidup yang lebih lama dibandingkan dengan ayam pedaging yang notabene hanya 2-3 bulan dan langsung dipanen. Berbeda dengan ayam ras petelur termasuk ayam kampung petelur yang akan diafkir setelah 2 tahun. Oleh karenanya kita sebagai peternak wajib melakukan vaksinasi untuk menjaga kesehatan ayam  sehingga  kita dapatkan ayam layer yang sehat, mampu bertelur dalam rentang waktu sekitar 11/2 tahun  dan menghasilkan telur yang  berkualitas selama ayam dalam masa produktif.
Banyak di kalangan peternak yang berpikir bahwa vaksin merupakan biaya yang cukup mahal, sehingga  sering seadanya atau bahkan ditiadakan sama sekali. Padahal jika vaksinasi dilakukan secara benar maka akan diperoleh hasil yang lebih baik dan tidak sebanding dengan biaya yang kita keluarkan karena program vaksinasi yang dilakukan secara benar akan menjaga kondisi kesehatan ayam dengan cara pembentukan antibody.
Vaksinasi mempunyai beberapa point penting yang harus diperhatikan yaitu:
-          Vaksin
-          Metode vaksinasi
-          Dosis vaksin
-          Jadwal vaksinasi
-          Waktu pemberian vaksinasi
-          Cara penyimpanan vaksin  
Jika dibandingkan antara berbagai table yang kami cantumkan, baik table vaksinasi dari breeder, buku referensi dan modifikasi kami, ternyata jenis vaksin yang digunakan tidak jauh berbeda yaitu:
-          Vaksin Marek
Vaksin ini digunakan untuk mencegah penyakit Marek dan diberikan secara subcutan atau intramuskular pada DOC. Biasanya vaksin ini sudah dilakukan oleh breeder. Menurut literature vaksinasi dilakukan dengan injeksi subcutan di bawah leher.
-          Vaksin ND + IB
Vaksin ini digunakan untuk mencegah penyakit Newcastle Disease dan Infectious Bronchitis. Cara pemberian vaksin ini ada 2 cara yaitu dengan tetes mata dan suntik injeksi intramuskular pada bagian dada. Perbedaan metode vaksin ini dikarenakan  perbedaan umur ayam yang akan divaksin.
-          Vaksin IB
Vaksin IB digunakan untuk menimbulkan kekebalan ayam terhadap Infectious Bronchitis. Pemberian vaksin ini sangat mudah yaitu dengan mencampurkannya dalam air minum.
-          Vaksin ND
Pemberian vaksin ini bertujuan mencegah timbulnya penyakit Newcastle Disease pada unggas. Vaksin ini juga dilakukan dengan 3 cara yaitu dengan pemberian tetes mata, metode injeksi subcutan dan injeksi intramuskuler pada dada.
-          Vaksin Cocci
Vaksin Cocci ini sangat mahal harganya, sehingga kadangkala banyak peternak yang melewati vaksin ini karena dalam beberapa pakan ayam jadipun sudah mengandung koksidiostat. Cara pemberian vaksin ini terdapat 2 kategori ada yang menggunakannya melalui air minum dan ada juga yang menyemprotkannya ke pakan.
-          Vaksin Gumoro
Vaksin gumoro juga diberikan pada air minum.
-          Vaksin Coryza
Vaksin coryza ini digunakan untuk mencegah timbulnya wabah Snot atau Coryza. Cara pemberian vaksin ini dilakukan dengan injeksi intramuskuler pada dada atau paha.
Menurut SHS, petunjuk pemakaian vaksin ini adalah sbb:
Double injeksi 0,5-1 ml pada ayam umur 10 minggu
Initial dose 0,5-1 ml pada ayam umur 4-6 minggu
Booster 0,5-1 ml pada ayam umur 14-16 minggu
Injeksi dilakukan pada otot paha untuk mendapatkan kekebalan
-          Vaksin Fowl Pox/Cacar
Vaksinasi cacar ini sangat berbeda dengan vaksin-vaksin lainnya. Pemberian vaksin ini dilakukan dengan metode tusuk sayap. Vaksin ini dikemas dalam satu vial berbentuk cairan emulsi.
Petunjuk pemakaian dan dosisnya menurut Vaksindo adalah sebagai berikut:
1.       Kocok vaksin sampai emulsinya menjadi rata (homogen) sebelum dipakai.
2.       Bentangkan sayap ayam sedemikian rupa sehingga “wingweb”nya terlihat jelas.
3.       Celupkan jarum yang tersedia ke dalam vaksin
4.       Tusuk wingweb dengan jarum tersebut hingga tembus.
5.       Satu dosis vaksin setara dengan 0,01 ml
6.       Vaksinasi dilakukan pada ayam umur 4-7 minggu dan dapat diulang pada umur 8-12 minggu.
7.       Lima sampai tujuh hari setelah vakinasi akan terjadi kekebalan ditandai dengan terbentuknya sarang pox. Sarang pox akan mengecil dan menghilang setelah 21 hari.
-          Vaksin ILT
Vaksinasi ILT bertujuan untuk membentuk kekebalan tubuh ayam terhadap terjadinya infeksi pada saluran laringotracheal. Cara pemberian vaksin ini adalah tetes mata, tetes hidung dan pemberian pada air minum.
-          Vaksin EDS
Vaksin ini selain merupakan booster untuk ND dan IB, vaksin ini juga digunakan untuk mencegah terjadinya Egg Drop Syndrom pada ayam layer. Vaksinasi ini dilakukan dengan melakukan injeksi intramuskuler pada dada.
-          Vaksin AI
Vaksinasi ini mulai merebak setahun belakangan ini akibat adanya kasus flu burung yang melanda Thailand, China dan Malaysia. Di beberapa wilayah Indonesia juga terjangkit wabah flu burung. Penyakit  ini juga membuat kerugian yang sangat luar biasa karena seluruh ayam yang terkena harus dimusnahkan. Namun, flu burung ini dapat ditanggulangi dengan melakukan vaksinasi sejak dini yaitu melakukan vaksinasi pada anak-anak ayam atau pada ayam dewasa agar terbentuk kekebalan tubuh terhadap serangan flu burung yang dicurigai disebarkan melalui burung-burung liar yang melakukan migrasi. Vaksin ini dilakukan dengan dua cara yaitu dengan injeksi subcutan dan injeksi intramuskuler pada otot dada. Perbedaan ini didasari oleh umur ayam yang akan dilakukan vaksinasi.
Menurut Vaksindo sebagai produsen, spesifikasi dan petunjuk pemakaian vaksin ini adalah  sbb:
VAKSIFLU AIÃ’ adalah vaksin inaktif yang dibuat dari virus  Avian Influenza (AI) isolat lapangan  (autovaksin) subtipe H5N1.
Kegunaan
Vaksin ini digunakan untuk menimbulkan kekebalan terhadap virus AI subtipe H5N1 pada ayam atau unggas lainnya.
Cara pemakaian dan dosis
Sebelum dipakai, kocok botol vakisn sampai homogen
Suntik vaksin di bawah kulit pada pangkal leher atau dlam urat daging dada ayam atau unggas lainnya dengan menggunakan alat suntik steril.
Dosis:   Ayam umur 4-21 hari                  0,2 ml
            Ayam umur di atas 21 hari          0,5 ml
Program Vaksinasi
Ayam pedaging (broiler)
Umur  Ayam     Jenis Vaksin    Cara Vaksinasi
      4-7 hari             Vaksiflu AI       Di bawah kulit 
                                                    pada pangkal leher  0,2 ml

Ayam Petelur (layer) atau Breeder

Umur Ayam      Jenis Vaksin     Cara Vaksinasi
4-7 hari             Vaksiflu AI        Di bawah kulit pada 
                                               pangkal leher 0,2 ml
3-4 minggu        Vaksiflu AI        Di bawah kulit pada 
                                                pangkal leher  0,5 ml
Setiap 3-4 bulan Vaksiflu AI        Suntik otot di dada 0,5 ml
Seperti pada manusia, hewan yang dalam hal ini ayam kampung yang dipelihara secara intensif memerlukan vaksinasi.
Vaksinasi lebih dimaksudkan untuk memberikan kekebalan buatan pada ayam kampung (buras) terhadap penyakit-penyakit ganas yang biasa menyerang ternak ayam.
Vaksinasi menjadi sangat penting sebagai antisipasi atau asuransi terhadap investasi kita dalam berternak ayam.
Selanjutnya coba pelajari teknik dan jadwal vaksinasi menurut :
PENYAKIT & PENGOBATAN
Pendapat atau kesimpulan orang awam bahwa ayam kampung tahan terhadap penyakit tidak seluruhnya benar.
Yang benar adalah ayam kampung lebih tahan terhadap penyakit, jika dibandingkan dengan ayam ras (negri).
Walaupun begitu, ayam kampung (buras) bukanlah kebal terhadap penyakit. Sehingga tindakan pencegahan terhadap penyakit tetap mutlak dilakukan seperti vaksinasi.
Tetapi bila penyakit atau ayam telah menjadi sakit karena segala alasan maka berikutnya adalah mengetahui jenis penyakit dan penyebabnya disamping tentunya cara pengobatannya selagi masih ada waktu.
Apa penyakit dan bagaimana cara pengobatan dan pencegahannya dapat dipelaji lebih lanjut :  Lanjutkan
SANITASI
Cara pengontrolan terhadap penyebaran penyakit adalah dengan menjaga sanitasi kandang dan sistem operasional di peternakan.
Sanitasi bukan dan tidak terbatas hanya dalam satu perlakuan (misal: kebersihan pakan dan kandang-kandang) tetapi haruslah berhubungan dengan Bio Security atau pengamanan terhadap organisme hidup yang dalam hal ini adalah jenis Virus, Protozoa, Bakteri dan jamur.
Apa saja yang harus dilakukan untuk peternakan skala menengah dapat dipelajari sebagai berikut :  Lanjutkan

Mesin Tetas Ayam Kampung Dll

Usaha peternakan unggas (ayam dan itik) merupakan jenis usaha yang cukup menjanjikan. Hal ini didasari oleh jumlah permintaan produk hewani asal unggas baik telur maupun daging tiap tahun makin meningkat. Sebagai contoh di Kotamadya Kendari pada tahun 2002 permintaan ayam buras berkisar 500 – 600 ekor per minggu, sementara baru tepenuhi 300 – 400 ekor per minggu (Anonim, 2002).

Dilihat dari data permintaan tersebut prospek usaha agribisnis unggas yang salah satunya adalah ayam buras cukup potensial. Keunggulan lain usaha agribisnis unggas adalah tidak mutlak memerlukan biaya yang besar, tergantung dari kemampuan peternak yang korelasinya dengan skala pemilikan. Selain itu jenis ternak ini telah lama dikenal masyarakat sehingga teknik budidayanya tidak terlalu rumit. Dalam upaya memacu usaha peternakan unggas perlu adanya sentuhan teknologi tepat dan mudah diterapkan oleh peternak. Dari sisi ketersediaan bibit, teknologi penetasan telur buatan dengan penggunaan mesin tetas telur sangat cocok diterapkan. Keunggulan teknologi ini adalah menghilangkan periode mengeram pada induk sehingga induk mampu menghasilkan telur lebih banyak selama hidupnya, selain itu anak ayam dapat di produksi dalam jumlah yang besar pada waktu yang bersamaan. Prinsip kerja dari mesin tetas ini adalah menciptakan situasi dan kondisi yang sama pada saat telur dierami oleh induk. Kondisi yang perlu diperhatikan adalah suhu dan kelembaban. Suhu optimal adalah 38,8o C atau 101o F. Kondisi suhu tersebut dapat direkayasa dengan penggunaan sumber panas listrik maupun lampu minyak dan untuk kelembaban optimal digunakan air yang ditempatkan dalam mesin tetas. Mesin tetas dibedakan atas dasar sumber panas yang digunakan. Pertama, mesin tetas elektrik dengan menggunakan listrik yang dihubungkan dengan lampu pijar sebagai sumber panas. Kedua, mesin tetas yang menggunakan sumber panas lampu minyak yang dihubungkan dengan silinder yang terbuat dari seng plat sebagai sumber panas. Ketiga, mesin tetas kombinasi yaitu gabungan dari sumber panas yang berbeda (listrik dan lampu minyak), jenis mesin tetas ini sangat efektif pada daerah yang sering mengalami pemadaman lampu, sehingga pada saat lampu padam maka digunakan lampu minyak sebagai sumber panas. Model mesin tetas telur ini dapat diperoleh di toko poultry shop atau membuat sendiri dengan bahan yang mudah dan tersedia di tempat. Besarnya mesin tetas telur yang digunakan disesuaikan dengan kapasitas telur yang akan ditetaskan seperti ; 200 butir, 400 butir dan 600 butir. II. Bahan – Bahan yang Digunakan Pembuatan mesin tetas disesuaikan dengan kondisi sumber panas yang tersedia. Pada tempat yang belum ada listrik bisa dibuat mesin tetas dengan menggunakan lampu minyak sedangkan daerah yang tersedia listrik bisa dibuat mesin tetas telur elektrik atau mesin tetas kombinasi.

Bahan-bahan yang digunakan antara lain :

1.Kayu kaso 4 x 5 cm sebagai rangka mesin
2.Tripleks melamin, kaca dan engsel
3.Kawat ram (tempat peletakan telur)
4.Paku dan seng plat
5.Nampan air dan thermometer
5.Alat pengatur suhu (thermoregulator)
6.Lampu pijar dan lampu minyak

Cara Pengoperasian Mesin Tetas Telur

A. Persiapan
Sebelum digunakan, mesin tetas harus dibersihkan dahulu dari mikroorganisma pengganggu dengan jalan penyemprotan bahan pembunuh kuman / desinfektan.
Pemanas dihidupkan.24 jam sebelum telur dimasukan ke dalam mesin tetas,
Telur dibersihkan dengan menggunakan lap basah hangat dan tiriskan.
Suhu mesin tetas harus konstan, diusahakan 38,8o C atau 101o F.
Nampan air diisi air secukupnya (tidak sampai penuh), penggunaan air ini untuk menjaga kelembaban mesin tetas, untuk itu selama penetasan harus diperhatikan stabilitas volume air.
Setelah telur bersih dan kering, telur diberi tanda pada kedua belah sisi dengan spidol atau alat tulis lain, misal ; huruf A dan B di kedua belah sisi. Pemberian tanda ini berguna untuk memudahkan dalam pemutaran telur agar lebih merata.
Telur yang sudah ditandai dimasukan secara perlahan ke dalam mesin tetas dengan posisi tanda seragam. Tutuplah mesin tetas setelah semua telur dimasukan.

B. Operasional Penetasan
Setelah 48 jam telur dalam mesin tetas, mulai dilakukan pemutaran telur setiap pagi dan sore.
Pemutaran telur dilakukan sampai hari ke 18.
Pemeriksaan telur sebaiknya dilakukan 2 kali, yaitu pada hari ke 7 dan hari ke 18.
Telur yang bertunas (tanda telur hidup) tampak terang dan tidak terdapat bintik-bintik merah
Telur yang bertunas ditandai dengan adanya titik merah di bagian petengahan, ukurannya kira-kira sebesar biji kacang hijau dan tampak bergerak. Apabila titik merah tersebut tidak bergerak pertanda embrio dalam telur mati, maka telur yang mati tersebut harus dibuang agar telur tidak membusuk dalam mesin.
Telur akan memenetas pada hari ke 20 atau 21.
Anak ayam yang keluar dari telur dibiarkan dahulu dalam mesin selama kurang lebih 24 jam, sampai bulu anak ayam kering dan kondisi anak ayam normal.
Setelah kering dan normal, anak ayam bisa dikeluarkan dari mesin tetas.

mesin-tetas

DAFTAR PUSTAKA

Anonimous, 2002. Sulawesi Tenggara Dalam Angka. BPS Sulawesi Tenggara.Rasyaf. M. 1997, Beternak Ayam Kampung . Penebar Swadaya. Jakarta.

Sumber : http://sultra.litbang.deptan.go.id
Diposkan oleh Awiek di 19:02
Close House,kan Ayam Kampung Solusi Cerdas

Kelompok ternak ayam kampung “Cipta Usaha Mandiri” yang terletak di Desa Duren, Kecamatan Talun, Blitar menemukan solusi cerdas dalam pola pemeliharaan ayam kampung. Yang menarik adalah model kandang panggung tertutup rapat dari lantai dasar sampai atap. Hampir tidak pernah dibuka sehingga tak mendapatkan sinar matahari secara penuh. Tapi, mendekati lokasi kandang, bau kotoran tidak tercium dari area kandang tersebut.


“Model closed house ini sebenarnya berpijak dari niatan mengurangi sifat kanibalisme ayam kampung, itu yang utama. Sebelumnya, dalam kandang yang terang ayam kampung saling mematuk sehingga mengakibatkan ayam mengalami luka bahkan kematian. Total bisa mencapai 10%. Ternyata setelah ditutup rapat dengan ruangan agak redup, sifat kanibalisme jadi hilang. Keuntungan lainnya suhu lebih stabil dan penularan penyakit bisa ditekan. Bahkan kematian maksimal hanya 2%,” Mulyanto, Ketua Kelompok ”Cipta Usaha Mandiri”.
Usaha yang dirintisnya sejak 2003 ini, menurut Mulyanto, dapat dimulai dengan modal dan populasi kecil dan bibit diusahakan sendiri. Awalnya anggota ada yang memelihara 50 atau 100 ekor dan akhirnya berkembang. Jumlah anggotanya saat ini 32 orang dengan populasi 30.000 ekor lebih. Kelompok ini mengadakan bibit sendiri dari indukan dengan kriteria yang bagus. Induk didapat dari daerah Talun atau daerah lain di Kabupaten Blitar seperti Srengat, Kanigoro, atau Kawijayan. “ Induk kita lokal, alat-alat penetasan kita sudah ada tapi belum bisa memenuhi kebutuhan kelompok. Baru sekitar 40% yang dapat dipenuhi oleh kelompok sedang yang 60% kita masih mencari di luar”.

Ternyata ayam kampung sangat diminati oleh rumah-rumah makan dengan bobot 0,9 sampai 1 kg. Khususnya di Blitar, ayam yang bobotnya kurang dari 1 kg harganya lebih mahal dibandingkan dengan ayam yang berbobot 1,3-1,5 kg. Bobot diatas 1 kg pasarnya ke pasaran umum tidak lagi ke rumah makan atau restaurant”.

Usaha budidaya ayam kampung dengan model closed house ini tidak jauh berbeda dengan pola budidaya broiler. “Model ini menggunakan dua kandang dengan umur yang berbeda. Kandang satu untuk ayam umur 0 – 30 hari dan kandang pembesaran umur 31-75 (panen)”.
Masa Brooder prinsipnya tidak berbeda jauh dengan pola budidaya broiler. Perbedaan yang tampak hanya pada pada alat pemanas yang tidak menggunakan elpiji atau batubara tetapi dengan bola lampu listrik. Bola lampu berdaya 40 watt dengan ketinggian lampu 40 cm cukup untuk populasi ayam 100 ekor/m2 . Pola brooder ini menghasilkan suhu 37oC untuk usia ayam 0-7 hari. Pada masa ini sebaiknya ayam ditempatkan dalam sekat-sekat yang kecil. Semakin kecil populasi akan semakin mengurangi resiko kematian.
Sementara Pudianto seorang anggota kelompok, berkisah ayam kampungnya sudah berumur 30 hari, siap dipindah ke kandang pembesaran. Pada masa ini juga dilakukan pengelompokan berdasar ukuran tubuh ayam, bisa dilakukan pada umur 15, 25 hari atau menjelang masuk kandang pembesaran,” kata Pudianto.
Sebelum ayam masuk kandang pembesaran, kandang terlebih dahulu disemprot dengan desinfektan. Pada kandang pembesaran pun dilakukan penyekatan. Ukuran 1,5 m x 3 m untuk populasi 75 – 100 ekor. ”Agak padat sedikit lebih bagus,” jelas Mulyanto. Seperti yang di kandang Pudianto, untuk sekat ukuran 2 x 3 m dengan populasi 200 ekor. Untuk penerangan cukup dengan lampu 5 watt untuk ukuran luas 4 x 6 m.
Dalam hal pakan, peran Dinas Peternakan Kabupaten Blitar sangat membantu peternak dalam mengurangi biaya produksi pakan. “ Kita mendapatkan pengarahan dari dinas dan dibantu cara pembuatan pakan dengan kandungan protein terstandar. Tapi campuran pakan itu digunakan untuk ayam minimal umur 40 hari. Campuran pakan ini terbuat dari jagung, dedak, bungkil kedelai, tepung ikan dan lain-lain dengan kandungan protein sekitar 15%”. Mengenai konsumsi pakan, Pudianto mengatakan, “Untuk populasi 1000 ekor sampai umur 30 hari menghabiskan pakan 11 sak (550 kg)”. Sedang secara keseluruhan selama masa pemeliharaan 75 hari pakan yang dihabiskan menurut Sutarji 40 – 45 sak (2000 – 2250 kg). Sementara untuk pakan umur 0 – 40 hari mau tak mau menggunakan pakan pabrikan.

Vaksinasi dilakukan dengan intensif. Mulai umur 4 hari divaksin ND, IB dan berturut-turut gumboro A, ND Lasota, Gumboro B. vaksin AI diberikan di kandang pembesaran pada umur 34 atau 35 hari.